TERASJABAR.ID – Panitia Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot menggelar rapat koordinasi (rakor) bertajuk Evaluasi Kinerja Tahun 2025 dan Pemantapan Program Kerja Tahun 2026.
Rakor evaluasi dan pembahasan program kerja 2026 itu dibuka langsung oleh Ketua Pentahelix Dayeuhkolot Tri Rahmanto di Well Grow Coffee, Jalan Raya Bojongsoang, Kecamatan Beleendah, Sabtu (31/1/2026).
Hadir dalam acara tersebut berbagai unsur pentahelix yakni perwakilan pemerintah daerah yang diwakili Dinas PUTR Kabupaten Bandung dan Dinas SDA Jawa Barat, akademisi, komunitas masyarakat, dunia usaha dan unsur media.
Ketua Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot, Tri Rahmanto mengatakan Rakor kali ini fokus pada evaluasi program yang telah dilaksanakan serta mematangkan program kerja tahun 2026.
“Evaluasi program ini sangat penting sebagai bahan perbaikan program-program yang akan dilaksanakan ke depan. Kami evaluasi hal-hal apa yang sudah baik dan hal apa yang masih kurang. Kita tadi bedah bersama,” ujar Tri Rahmanto usai acara.
Sejak dibentuk pada pertengahan November 2025 lalu, lanjut dia, Panitia Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot total telah melakukan lebih dari 20 program kerja besar untuk menangani dan meminimalisir permasalahan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot.
“Selain itu, kami juga mematangkan program kerja 2026 sekaligus menyelaraskan langkah berbagai pemangku kepentingan dalam menangani permasalahan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot,” tambah Tri Rahmanto.

Untuk tahun 2026 ini Pentahelix Dayeuhkolot memiliki berbagai program prioritas yang didasarkan pada hasil mitigasi dan monitoring lapangan. Di mana fokus penanganan diprioritaskan di tiga wilayah yakni Kampung Bojongasih Desa Dayeuhkolot, Kampung Sukabirus Desa Citeureup, dan Kelurahan Pasawahan.
“Kita telah melakukan survei dan monitoring secara intensif di lapangan untuk menentukan fokus penanganan tahun ini,” jelas Tri Rahmanto
Selain itu, salah satu kabar baik yang diumumkan Tri Rahmanto adalah tentang alokasi anggaran dari Pemerintah Kabupaten Bandung untuk meningkatkan tinggi jembatan Sukabirus dan Jembatan Pasigaran. Pekerjaan konstruksi kedua jembatan tersebut direncanakan akan dimulai pada semester pertama tahun 2026.
“Kami sangat bersyukur karena info yang kami dapat, Pemkab Bandung sudah mengalokasikan anggaran untuk meninggikan jembatan Sukabirus dan Pasigaran. Pekerjaan jembatan tersebut akan dilaksanakan tahun ini. Semoga ini akan mengurangi banjir di Desa Citeureup,” ungkapnya dengan penuh harapan.
Selama ini, kata Tri Rahmanto, Jembatan Sukabirus dan Pasigaran merupakan dua titik krusial penyebab genangan banjir yang kerap terjadi di Desa Citeureup.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi multisektoral dalam menghadapi tantangan banjir yang telah puluhan tahun menjadi masalah akut di Kecamatan Dayeuhkolot.
“Banjir tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Melalui kerjasama seluruh unsur pentahelix, kita berusaha untuk menciptakan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan,” ucapnya. (**)















