Melalui perpaduan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan ketelitian para ahli BMKG, jutaan data observasi dikembangkan menjadi peringatan dini cuaca dan iklim yang dapat segera direspons masyarakat.
Kemampuan pengamatan terus didorong dengan beragam produk data dan informasi, seperti prakiraan cuaca harian-mingguan, prediksi iklim bulanan-tahunan, hingga proyeksi perubahan iklim, yang dibutuhkan seluruh sektor masyarakat.
Menyadari perlindungan masyarakat membutuhkan sinergi yang kuat, BMKG terus memperkuat kerja sama internasional dengan World Meteorological Organization (WMO) dan lembaga meteorologi dunia lainnya.
Di tingkat domestik, BMKG aktif membangun kolaborasi nasional melalui kemitraan dengan kementerian/lembaga, jajaran pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan peran aktif BMKG pada jaringan WMO, termasuk Global Atmosphere Watch (GAW), memastikan Indonesia terhubung dengan sistem observasi global. Demikian itu, data nasional dapat berkontribusi pada pemantauan iklim dunia sekaligus memperkaya kapasitas nasional.
Langkah kolaboratif ini sejalan dengan komitmen kuat BMKG untuk terus memperkuat sistem observasi, memperluas jaringan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta mempercepat akselerasi transformasi digital.
Hal ini menjadi landasan ajakan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memanfaatkan data BMKG dalam pengambilan keputusan.
“Informasi cuaca dan iklim bukan hanya untuk ahli, tetapi untuk semua orang: nelayan, petani, pelaku usaha, hingga masyarakat umum,” tutur Ardhasena.
















