Menurutnya, pangan lokal memiliki keunggulan komparatif dibandingkan pangan impor.
“Pangan lokal lebih segar karena rantai pasok yang pendek, mudah diakses, dan harganya lebih terjangkau. Selain memenuhi gizi, mengonsumsi pangan lokal juga berdampak nyata bagi ekonomi petani dan memperkuat identitas budaya kita,” jelasnya.
Korelasi Pola Makan dan Penyakit Tidak Menular
Sementara itu, Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menyoroti dampak serius dari pola makan tinggi Gula, Garam, dan Lemak (GGL).
Konsumsi GGL yang berlebih, terutama di perkotaan, menjadi pemicu utama hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.
“Kajian bersama BPOM menunjukkan, jika kita menyelaraskan kebijakan pengendalian asam lemak trans dan reformulasi makanan, kita bisa mencegah 310 ribu kematian dan 580 ribu penyakit jantung. Pengaturan batas maksimum GGL dan label pangan menjadi langkah krusial yang terus kami dorong,” tegas Nadia.
Peringatan HGN ke-66 ini diharapkan menjadi momentum kolaborasi seluruh pihak untuk menjadikan gizi seimbang berbasis pangan lokal sebagai fondasi membangun SDM Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing.***
















