Tiga Target Inti Ramadhan
- Iman Naik Level
dari iman ritual menuju iman sadar
Di luar Ramadhan, kita sering beribadah karena kebiasaan.
Di Ramadhan, Allah mengajak kita menyadari.
Mengapa kita puasa.
Mengapa kita shalat.
Mengapa kita menahan diri.
Iman sadar adalah iman yang tetap hidup meski tidak disorot,
tetap taat meski tidak disaksikan.
Jika setelah Ramadhan kita beribadah bukan karena “bulan suci”,
tapi karena “aku butuh Allah”,
maka iman kita benar-benar naik level.
- Akhlak Menjadi Refleks
Sabar, jujur, lembut, ( refleks, tanpa harus dipikirkan)
Ramadhan menguji bukan hanya ibadah,
tapi reaksi.
Bagaimana kita menahan emosi saat lapar.
Bagaimana kita menjaga lisan saat lelah.
Bagaimana kita bersikap saat diuji.
Target Ramadhan bukan sekadar mampu menahan marah,
tapi menjadikan kesabaran sebagai kebiasaan.
Ketika sabar tidak lagi dipaksakan,
jujur tidak lagi diperhitungkan,
lembut tidak lagi dibuat-buat, di situlah Ramadhan berhasil membentuk akhlak.
- Allah Terasa Dekat
(Doa bukan formalitas, tapi kebutuhan)
Di Ramadhan, doa terasa berbeda.
Lebih jujur.
Lebih lirih.
Lebih dekat.
“Targetnya bukan agar kita banyak berdoa,
tapi agar kita tidak bisa hidup tanpa berdoa.”
Ketika setelah Ramadhan:
“Kita spontan berdoa sebelum mengambil keputusan
Kita mengadu sebelum mengeluh”
Kita bergantung sebelum berharap pada manusia
maka hubungan kita dengan Allah telah berubah.
Bukan lagi sekadar hubungan ritual,
tapi hubungan kebutuhan.
Jika Ini Tercapai…
Jika iman lebih sadar,
akhlak lebih tenang,
dan Allah terasa lebih dekat
maka Ramadhan telah berhasil.
Meski target khatam belum tercapai.
Meski ibadah belum sempurna.
Meski masih banyak kekurangan.
Karena Ramadhan tidak datang untuk melahirkan manusia tanpa dosa,
tapi manusia yang tahu ke mana harus kembali saat berdosa.


















