TERASJABAR.ID – Ramadan datang bukan hanya sekadar sebagai bulan untuk beribadah, melainkan juga menjadi momen yang tepat untuk melakukan refleksi.
Lebih dari hanya refleksi pribadi, bulan suci bagi umat muslim ini juga dapat menjadi waktu untuk merefleksikan yang selama ini menjadi tugas bersama, yakni implementasi reformasi birokrasi.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini mengatakan selama ini reformasi birokrasi kerap dimaknai sebatas perbaikan sistem, penguatan tata kelola, peningkatan profesionalisme, hingga pelayanan publik yang semakin mudah dan cepat.
Dalam suasana Ramadan yang sarat dengan nilai introspeksi dan pengendalian diri, pemaknaan reformasi birokrasi bukan hanya proses dan hasilnya saja.
“Ramadan diibaratkan menjadi sebuah sekolah. Sekolah melatih dan membentuk kesabaran, kedisiplinan, dan empati. Seperti sekolah pula, hasilnya sangat bergantung pada kesungguhan dalam menjalaninya. Nilai-nilai ini yang sesungguhnya menjadi fondasi kehidupan, termasuk dalam menjalankan amanah sebagai aparatur negara,” ujarnya, dikutip dari laman resmi kementerian PANRB.
Ia menyampaikan hal itu dalam Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Komisi II DPR RI dan Keluarga Besar HMI dan Kahmi se-Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Jawa Timur.
Ramadan juga mengajarkan mengenai empati sosial yang melahirkan kepedulian. Dalam konteks reformasi birokrasi, empati sosial dalam pelayanan publik bukan hanya tentang pemenuhan indikator kinerja, melainkan benar-benar memahami kebutuhan masyarakat.
Agar reformasi birokrasi memberikan dampak, diantaranya terdapat aspek penting agar masyarakat merasakan langsung dampak dari reformasi birokrasi yang dilakukan pemerintah. Aspek tersebut adalah kepemimpinan yang memberikan teladan, budaya kerja kolaboratif, dan akuntabilitas.
















