TERASJABAR.ID – Saptonan dan Panahan Tradisional, merupakan bagian dari warisan budaya adat Kuningan, biasanya menjadi daya tarik utama yang diagendakan setiap tahun dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kuningan tanggal 1 September.
Namun sangat disayangkan, di bawah kepemimpinan Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, tradisi Saptonan dan Panahan Tradisional ditiadakan.
Ketika ditanya oleh awak media, mengapa tradisi Saptonan dan Panahan tradisional tidak digelar? “Alasannya hanya ada masalah batasan anggaran, maka sementara untuk tahun ini ditiadakan,” jawab Bupati Dian singkat.
Ketua Dewan Kebudayaan Kuningan Dodo Suwondo, terkait tidak digelarnya kedua tradisi tersebut, menyatakan bahwa, Saptonan dan panahan tradisional adalah bagian dari warisan budaya tatar Sunda. “Khususnya saptonan yang hanya dimiliki oléh masyarakat Kabupaten Kuningan,” uajrnya Jumat 29 Agustus 2025.
Dua cabang warisan budaya ini sambung Dodo Suwondo, sudah menjadi kalender tetap dipergelarkan setiap perayaan Hari Jadi Kuningan. Jika saptonan dan panahan tradisional ditiadakan maka “dianggap” hilang rasa cinta terhadap nilai-nilai tradisional dan jati diri yang sudah tertanam sejak lama.

“Jika pun ada permasalahan yang menjadikan pergelaran tersebut harus terpaksa tidak bisa terselenggarakan, maka harus dicarikan solusi agar pergelaran saptonan dan panahan tradisional tetap terselenggara,” tegas Dodo Suwondo.
Kedua pertunjukan tradisi ini bukan hanya hiburan rakyat, tetapi juga merupakan sarana pelestarian nilai-nilai budaya dan sejarah Kabupaten Kuningan.***