TERASJABAR.ID – Helicopter Parenting atau pola asuh helikopter adalah gaya pengasuhan yang terlalu protektif dan cenderung mengatur hampir seluruh aspek kehidupan anak.
Orang tua dengan pola ini biasanya didorong oleh rasa khawatir berlebihan atau keinginan agar anak selalu berhasil.
Sikap ini bisa muncul sejak anak usia dini hingga remaja.
Pada anak prasekolah, pola asuh helikopter terlihat dari larangan bermain sendiri atau pembatasan aktivitas secara berlebihan.
Saat usia sekolah, orang tua kerap menentukan pilihan teman, kegiatan, hingga sekolah tanpa melibatkan anak, bahkan mengerjakan tugas sekolahnya.
Memasuki remaja, orang tua masih sering ikut campur dalam urusan sosial dan masalah pribadi anak.
Jika berlangsung terus-menerus, pola asuh ini dapat berdampak negatif.
Anak bisa kesulitan mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah karena terbiasa dibantu.
Mereka juga cenderung kurang mandiri dan bergantung pada orang lain.
Selain itu, anak dapat mengalami kesulitan mengelola emosi, kurang percaya diri, bahkan berisiko mengalami gangguan kecemasan atau depresi.
Untuk mencegah dampak tersebut, orang tua perlu mulai memberi ruang bagi anak.
Buat daftar kemampuan anak agar ia menyadari potensinya.
Hindari langsung membantu saat anak mendapat konsekuensi atas kesalahannya, agar ia belajar tanggung jawab.
Biarkan anak mencoba menyelesaikan masalah sederhana sendiri dan jelajahi lingkungannya dengan pengawasan seperlunya.
Yang terpenting, tanamkan kepercayaan bahwa anak mampu mandiri.
Orang tua tidak harus sempurna. Dengan keseimbangan antara melindungi dan memberi kebebasan, anak dapat tumbuh lebih percaya diri dan tangguh.-***










