TERAS JABAR – Rencana pengoperasian kembali Bandara Husein Sastranegara Bandung pada 17 September 2026 menjadi kabar yang disambut positif oleh masyarakat, pelaku usaha, sektor pariwisata, hingga dunia investasi di Jawa Barat.
Kepastian bahwa bandara tersebut tidak ditutup dan tetap difungsikan untuk melayani penerbangan pesawat baling-baling (propeller) menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga konektivitas transportasi udara di wilayah Bandung dan sekitarnya.
Keberadaan Bandara Husein Sastranegara selama ini bukan hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, melainkan juga sebagai penggerak roda perekonomian daerah. Posisinya yang berada di jantung Kota Bandung memberikan kemudahan akses bagi wisatawan, pebisnis, investor, maupun masyarakat umum yang membutuhkan mobilitas cepat dan efisien.
Dari sisi ekonomi, aktifnya kembali bandara diperkirakan akan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang cukup signifikan. Sektor perhotelan, restoran, pusat perbelanjaan, transportasi daring, jasa perjalanan, hingga pelaku UMKM diprediksi akan kembali merasakan peningkatan aktivitas ekonomi. Wisatawan yang datang ke Bandung tidak hanya menggerakkan sektor pariwisata, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, kuliner, fesyen, dan industri jasa yang selama ini menjadi kekuatan utama Kota Bandung.
Bagi pelaku usaha, keberadaan bandara yang dekat dengan pusat kota juga memberikan efisiensi waktu dan biaya perjalanan. Aktivitas bisnis, pertemuan investasi, pameran, seminar, serta kegiatan ekonomi lainnya dapat berlangsung lebih efektif. Hal ini tentu menjadi nilai tambah bagi Bandung sebagai salah satu kota jasa dan perdagangan terbesar di Indonesia.
Di sisi lain, operasional penerbangan pesawat propeller membuka peluang peningkatan konektivitas antarwilayah di Jawa Barat. Kota-kota yang memiliki potensi ekonomi dan pariwisata dapat terhubung secara lebih cepat dengan Bandung. Konektivitas ini sangat penting dalam mendukung pemerataan pembangunan dan memperkuat jaringan ekonomi regional.
Bagi sektor pariwisata, kembalinya aktivitas Bandara Husein Sastranegara berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan domestik. Destinasi unggulan di Bandung Raya, kawasan utara Bandung, sentra kuliner, wisata belanja, hingga destinasi budaya akan kembali memperoleh manfaat ekonomi yang besar. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan daya saing pariwisata Jawa Barat.
Selain itu, keberadaan dua bandara yang saling melengkapi, yakni Bandara Husein Sastranegara dan Bandara Internasional Kertajati, dapat menciptakan sistem transportasi udara yang lebih adaptif. Kertajati dapat mengakomodasi penerbangan skala besar, sementara Husein melayani kebutuhan penerbangan regional dan pesawat berkapasitas lebih kecil. Pola ini memungkinkan distribusi penumpang yang lebih efektif sekaligus memperluas aksesibilitas wilayah Jawa Barat.
Lebih jauh, kepastian bahwa Bandara Husein Sastranegara tetap beroperasi juga memberikan dampak psikologis positif bagi dunia usaha dan investor. Stabilitas infrastruktur transportasi merupakan salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi. Ketika konektivitas terjaga, maka iklim usaha pun akan semakin kondusif.
Pada akhirnya, pengoperasian kembali Bandara Husein Sastranegara bukan sekadar menghidupkan kembali aktivitas penerbangan, melainkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi Kota Bandung dan Jawa Barat. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat diharapkan mampu menjadikan bandara ini sebagai salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan sektor pariwisata, dan penguatan daya saing daerah di masa mendatang. (Bambang Sudaryanto) ***















