TERASJABAR.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka resmi mengeluarkan surat pernyataan siaga bencana terkait fenomena El Nino Gozila yang diprediksi akan terjadi mulai bulan Juni hingga September 2026 mendatang. Pihak BPBD memfokuskan antisipasi pada dua ancaman utama, yaitu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kekurangan air bersih yang diperkirakan membutuhkan pasokan hingga 1.000.000 liter.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka, Agus Tamim, menjelaskan bahwa surat siaga tersebut telah ditandatangani oleh Bupati Majalengka dan berisi langkah-langkah pencegahan yang harus dilakukan oleh seluruh pihak terkait.
“Berdasarkan pengalaman dua tahun terakhir, ada dua permasalahan utama yang kerap muncul saat musim El Nino.
Pertama adalah kebakaran hutan dan lahan yang banyak terjadi di sejumlah titik lereng di sekitar Gunung Ciremai. Hampir seluruh wilayah Majalengka berpotensi terkena dampak karena memiliki hutan belukar yang sangat rentan terbakar,” ujar Agus saat dikonfirmasi.
Ancaman Kedua: Kekurangan Air Bersih
Selain kebakaran, dampak terberat lainnya adalah kesulitan mendapatkan air bersih. Menurut Agus, kondisi ini terjadi karena air tanah mulai mengering dan sejumlah wilayah belum terjangkau oleh jaringan pipa PDAM.
Berdasarkan data tahun 2023, tercatat sebanyak 22 desa di Majalengka mengalami kekurangan air bersih. Wilayah tersebut tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Palasah, Sumberjaya, Jatiwangi, Kadipaten, Dawuan, hingga Kasokandel.
Namun untuk tahun ini, prediksi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebutkan jumlah desa yang terancam kekurangan air bersih meningkat menjadi 30 desa. Hal ini berdasarkan hasil rapat koordinasi pekan lalu.
“Pemprov Jawa Barat menetapkan siaga darurat kekeringan mulai 1 Juli hingga 30 September. Namun kami di Majalengka lebih dulu menetapkan siaga sejak bulan Juni, mengingat curah hujan sudah mulai berkurang dan cuaca semakin panas,” tambahnya.
Upaya Antisipasi dan Pasokan Air
Untuk mengatasi masalah kekurangan air bersih, BPBD telah melakukan koordinasi dengan PDAM dan Palang Merah Indonesia (PMI) yang rutin melakukan penyaluran air. Mengingat ketersediaan tangki air milik BPBD terbatas, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan sejumlah industri yang berada di wilayah rawan.
“Di Kasokandel, Palasah, Jatiwangi dan Sumberjaya banyak berdiri industri. Kami sudah meminta bantuan mereka untuk menyediakan air bersih bagi warga sekitar, karena mereka memiliki dana CSR yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum,” jelas Agus.
Sementara itu, Direktur Teknis PDAM Majalengka, Rolan Rosisendra, membenarkan telah menerima koordinasi dari BPBD. Ia menyatakan pihaknya siap menyalurkan air bersih kepada masyarakat namun harus melalui permintaan resmi dari BPBD sebagai koordinator utama.
“Stok air di PDAM saat ini aman dan cukup. Justru di musim kemarau kualitas air menjadi lebih baik karena tidak ada lumpur atau sampah yang menyumbat saluran pengolahan air,” tutup Rolan.(*)










