Sebelumnya, di tahun 2025, telah terealisasi penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat desil 1 hingga desil 4 sebanyak 18,2 juta penerima.
Penyaluran dilakukan dalam empat bulan. Dua bulan pertama berupa beras 10 kilogram per bulan, kemudian dua bulan berikutnya berupa beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter per bulan.
Selain bantuan pangan, Bapanas juga menjalankan SPHP beras untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Realisasi penyaluran SPHP beras sepanjang tahun 2025 mencapai 795,5 ton di seluruh wilayah Indonesia. Program ini disalurkan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp12.500 per kilogram di Zona 1, Rp13.100 per kilogram di Zona 2, dan Rp13.500 per kilogram di Zona 3.
Adapun SPHP beras tahun 2026 tetap dilanjutkan dengan target penyaluran 828 ribu ton di seluruh Indonesia. Bapanas juga menyiapkan program intervensi pengendalian kerawanan pangan tahun 2026 bagi 11.500 kepala keluarga desil 1, dengan nilai bantuan Rp 250.000 setiap keluarga. Program ini menyasar wilayah rawan pangan demi akses pangan masyarakat yang membaik.
Kemudian, bantuan pangan terfortifikasi dan biofortifikasi kepada 960 keluarga berisiko stunting di Kabupaten Bandung. Bantuan berupa beras fortifikasi 15 kilogram per bulan akan disalurkan tiga kali pada Mei hingga Juli 2026.
Dalam kesempatan sama, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, A. Muhaimin Iskandar menyampaikan arah kebijakan pemerintah berjalan baik dalam pelaksanaan Inpres Nomor 8 Tahun 2025 dengan tampilnya tren positif yang terus digenjot guna mencapai target 0% kemiskinan ekstrem di tahun ini.
“Bapak ibu sekalian, alhamdulillah kemiskinan ekstrem berhasil turun. Dari 1,26% pada Maret 2024 menjadi 0.78% pada September 2025. Pada sekitar 0.48% penduduk miskin ekstrem alhamdulillah telah naik kelas,” ungkap Muhaimin.

















