TERASJABAR.ID – Tangan Arul sedikit gemetar saat memegang ijazah SMA yang baru ia terima. Lembaran kertas itu baginya lebih dari sekadar tanda lulus. Itu bukti bahwa hidupnya berbalik arah. Bukti bahwa ketika seseorang mau memberi kesempatan kedua, masa depan yang kelam bisa diganti dengan mimpi baru.
Enam tahun lalu, nama Arul tercatat sebagai anak berhadapan dengan hukum. Jalan yang ia tempuh sempat kelam, penuh stigma. Tapi hari ini, ia berdiri dengan kepala tegak, mata menatap lurus ke depan, siap mengejar cita-cita yang dulu terasa mustahil dan kini ingin menjadi anggota Polri.
Cerita itu dimulai sejak 2021. Polres Tasikmalaya memutuskan mengambil Arul sebagai anak asuh. Keputusan itu tidak berhenti di acara seremonial. Polres benar-benar menanggung biaya sekolah Arul, dari bangku SMP sampai ia menamatkan SMA. Kebutuhan sehari-hari keluarganya pun ikut dibantu, agar Arul bisa fokus belajar tanpa beban.
Yang membuat program ini istimewa adalah estafet kepeduliannya. Lima Kapolres bergantian mengawal perjalanan Arul. Dari AKBP Rimsyahtono, AKBP Suhadi Heri Haryanto, AKBP Bayu, AKBP Haris Dinzah, hingga Kapolres saat ini AKBP Wahyu Prista Utama. Komitmen itu tidak putus meski kursi pimpinan berganti.
Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Heru Samsul Bahri menjadi saksi langsung perjalanan panjang tersebut. “Polres Tasikmalaya sejak 2021 memiliki anak asuh yang tadinya anak berhadapan dengan hukum,” ujar dia Jumat(26/6/2026)
“Selama beberapa tahun ini pihak Polres Tasikmalaya berkomitmen membiayai sekolahnya dari SMP sampai keluar SMA. Saat ini Arul sudah lulus SMA, memiliki cita-cita ingin mendaftar jadi polisi. Dan saat ini dibina di Polres Tasikmalaya.
Hal ini menunjukkan komitmen Kepolisian Republik Indonesia dalam membantu generasi penerus melalui jalur pendidikan formal.”katanya.
Enam tahun bukan waktu singkat untuk remaja seusia Arul. Ia melewati SMP dengan rasa canggung, SMA dengan tekanan ujian, hingga akhirnya lulus. Sepanjang perjalanan itu ia tidak sendiri. Ada pembinaan, ada pengawasan, ada ruang untuk bermimpi lagi.
Kini setelah lulus, Arul tidak dilepas begitu saja. Ia dibina langsung di lingkungan Polres Tasikmalaya. Targetnya jelas ingin mendaftar seleksi Polri, profesi yang dulu hanya bisa ia lihat dari jauh.
Saat diminta bicara, suara Arul terdengar pelan tapi mantap. Dalam bahasa Sunda yang tulus ia mengucapkan terima kasih: “Pak polisi saya enam tahun dibiayayi sekolah mulai SMP SMA dan sekarang keluar. Saya lagi dibina juga mau jadi polisi. Polisi Polres Tasik haturnuhun, semoga Allah balas.”
Bagi Polres Tasikmalaya, Arul bukan angka statistik. Ia adalah wajah nyata restorative justice dan pembinaan. Ketika seorang anak diberi kesempatan kedua lewat pendidikan, dampaknya merambat ke keluarga, lingkungan, bahkan komunitas.
Ijazah SMA di tangan Arul hari ini menandai satu hal: stigma “anak berhadapan hukum” bisa diganti. Diganti dengan narasi baru: anak yang diberi ruang tumbuh, disekolahkan, dibina, dan diberi mimpi, “pungkasnya.(*)
















