TERASJABAR.ID – Ratusan petugas kebersihan berstatus sukarelawan (sukwan) berdiri rapi di Bale Wiwitan, Jalan Noenoeng Tisnasaputra, Kota Tasikmalaya, Selasa (19/5). Tapi pagi itu, apel pelepasan kegiatan pungut sampah berubah jadi sidang terbuka untuk satu nama, yakni Plh. Sekda Hanapi.
Sebanyak 116 sukwan berkumpul dengan barisan lurus, dengan wajah mereka lelah, tapi mata mereka tajam. Di depan mereka berdiri Plh. Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara, Plh. Sekda Hanapi, Kasatpol PP, dan semua camat se-Kota Tasikmalaya. Apel yang biasanya cuma berisi instruksi dan semangat pagi, kali ini jadi panggung penagihan janji yang sudah lama busuk diabaikan.
Masalahnya sederhana, tapi menusuk harga diri. Saat masih menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Hanapi berjanji akan memberikan reward kepada ratusan petugas kebersihan sukwan. Janji itu keluar dari mulut seorang kepala dinas yang paham betul bagaimana kotor, panas, dan berbahayanya kerja mereka di lapangan. Namun Janji itu keluar saat para sukwan masih berharap ada bentuk apresiasi atas kerja yang tidak pernah libur, bahkan ketika kota sedang tidur.
Tapi begitu Hanapi pindah tugas jadi Plh. Sekda, janji itu menguap. Tidak ada surat, tidak ada uang, tidak ada klarifikasi. Yang ada hanya diam. Ratusan orang yang tiap hari mengurusi sampah kota ditinggalkan dengan harapan kosong.
Di hadapan barisan petugas, Diky Candranegara mencoba menenangkan. “Saya minta bapak ibu tetap semangat bekerja. Soal reward yang dijanjikan, kita akan cek dan carikan jalan keluarnya,” ujarnya.
Kata-kata itu terdengar familiar. Sudah terlalu sering pejabat bicara “akan dicek” dan “carikan jalan keluar” untuk mengubur masalah diam-diam. Bagi 116 sukwan, itu bukan solusi. Itu penundaan.
Plh. Sekda Hanapi berdiri diam di sampingnya. Tidak ada bantahan, tidak ada penjelasan, tidak ada permintaan maaf. Padahal ia yang dulu berjanji. Ia yang tahu betul bagaimana rasanya berdiri di depan petugas sambil berjanji atas nama institusi. Dan ia juga yang sekarang diam saat ditagih.
Kegiatan pelepasan petugas sampah tetap berjalan. Truk sampah jalan, sapu lidi bergerak, jalanan dibersihkan. Tapi yang tidak bisa dibersihkan adalah noda janji yang diingkari. Kota boleh bersih dari sampah, tapi kepercayaan publik jadi kotor kalau pejabat seenaknya berjanji lalu kabur saat ditagih.*













