TERASJABAR.ID – Dua narapidana kasus terorisme di Lapas Kelas IIB Kabupaten Majalengka, Rizal (25) dan Andri Muhammad Maulana (25), menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Rabu (13/5/2026).
Keduanya tampil mengenakan peci hitam, kemeja putih, celana hitam, serta kacu merah putih yang melingkar di leher. Dengan Al-Qur’an di atas kepala, dua sahabat asal Kalideres, Jakarta Barat itu membacakan ikrar setia kepada NKRI.
Suasana di aula lapas mendadak hening saat keduanya melangkah ke depan disaksikan petugas lapas dan tamu undangan. Andri membaca ikrar, dan Rizal mengikutinya. Mereka tampak menghayati saat mengucapkan ikrar tersebut, terlebih saat mencium bendera merah putih. Bahkan mata mereka terlihat berkaca-kaca.
Bagi mereka, momen pembacaan ikrar setia kepada NKRI bukan sekadar seremoni belaka, melainkan sebuah pernyataan sikap yang tulus untuk kembali menata hidup ke depan yang lebih baik setelah mereka terjerat paham radikal, propaganda, hingga rencana aksi bom bunuh diri, sebelum akhirnya ditangkap.
Rizal alias Abu Morgan Al-Somalia mengaku mulai terpapar paham radikal sejak 2017 melalui grup media sosial berafiliasi dengan jaringan Aman Abdurrahman dan ISIS. Ia menyebarkan propaganda jihad, video peperangan, hingga ajakan hijrah dan jihad.
“Targetnya anak-anak muda. Saya menyebarkan propaganda, video eksekusi peperangan, mengajak hijrah dan jihad,” ujar Rizal pada Rabu (13/5/2026), di aula Lapas kelas IIB Majalengka.
Ia sempat meyakini, pemerintah Indonesia sebagai thaghut yang harus diperangi, bahkan merencanakan aksi bom bunuh diri. “Ya aksi seperti bom bunuh diri, penembakan, dengan cara apa pun itu sebisa mungkin,” katanya.
Rizal ditangkap 6 Agustus 2024 di Kalideres, Jakarta Barat, saat merencanakan aksi terhadap Polsek Tangerang. “Tapi alhamdulillah saya langsung ditangkap, masih ada kesempatan buat saya hidup lebih baik lagi,” tuturnya.
Kini Rizal mengaku lega dan bangga. “Alhamdulillah, pertama saya senang sekali, bangga. Semoga dengan ikrar ini bisa menambah kecintaan saya terhadap negara ini dan saya pun siap menjadi warga negara Indonesia yang baik, taat akan hukum yang ada di Indonesia ini. NKRI harga mati,” katanya.
Bagi Rizal mencium bendera merah putih menjadi momen emosional . “Pertama kali saya dalam hidup mencium bendera merah putih yang selama ini saya anggap musuh, saya anggap bendera thaghut segala macam. Tapi hari ini saya menciumnya dengan senang hati,” ucap Rizal.
Setelah bebas, ia berencana hidup normal, bekerja, dan tidak lagi terlibat kekerasan. Meski begitu, ia khawatir soal penerimaan masyarakat. “Saya minta maaf kepada masyarakat setempat karena sempat ramai juga ketika saya ditangkap, sempat viral masuk TV juga,” jelasnya.
Sementara Andri Muhammad Maulana alias Anton mengaku masuk jaringan ISIS pada 2024. Awalnya ia ingin belajar agama lebih dalam bersama Rizal. “Saya awalnya anak muda yang ingin belajar agama, ingin paham dengan agama,” kata Andri.
Ia mengikuti kajian online hingga terpapar doktrin jihad. “Kami diiming-imingi surga oleh ustaz, diiming-imingi jihad. Karena negara Suriah ditutup, maka lakukanlah di negara sendiri dengan bom bunuh diri,” tuturnya.
Andri menargetkan Polsek di Jakarta, sementara Rizal di Tangerang. Keduanya ditangkap bersamaan.
Kini Andri bersyukur bisa kembali ke NKRI. “Alhamdulillah senang banget, kami bahagia bisa balik ke pangkuan NKRI, bisa jadi anak muda yang mencintai tanah air Indonesia,” katanya. Setelah bebas, ia ingin bekerja dan berwirausaha dari keterampilan yang dipelajari di lapas.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Majalengka, Rian Firmansyah, mengatakan ikrar dilakukan setelah keduanya menunjukkan perubahan sikap. “Mereka sudah memiliki pandangan yang moderat, tidak lagi radikal, aktif mengikuti program pembinaan dan bisa berbaur dengan warga binaan lain,” kata Rian.
Selama lima bulan terakhir, lapas melakukan pendampingan khusus. Keduanya aktif di kegiatan masjid hingga menjadi pelopor kebersihan di lingkungan lapas. Rian berharap keduanya benar-benar kembali ke masyarakat dan tidak terhubung lagi dengan jaringan lama.
“Yang mereka inginkan sekarang itu kembali ke keluarga, hidup normal bersama orang tua dan masyarakat,” pungkasnya.*










