TERASJABAR.ID — Fenomena fatherless di Kota Bandung masih menjadi isu serius yang memerlukan perhatian bersama.
Anggota Komisi II DPRD Kota Bandung, Indri Rindiani, menilai tingginya angka perceraian menjadi salah satu pemicu utama kondisi tersebut, dengan perempuan sebagai pihak yang paling merasakan dampaknya.
Menurut Indri, perceraian tidak hanya memengaruhi hubungan dalam keluarga, tetapi juga membawa konsekuensi sosial dan ekonomi yang luas.
Perempuan, kata dia, kerap harus menanggung beban ganda setelah berpisah, baik sebagai pencari nafkah maupun pengasuh anak.
“Angka perceraian di Kota Bandung masih relatif tinggi. Dampaknya sangat signifikan, terutama bagi perempuan, baik dari sisi ekonomi maupun sosial. Kondisi ini turut mendorong meningkatnya fenomena fatherless,” ujarnya.
Ia menjelaskan, faktor ekonomi menjadi penyebab dominan dalam banyak kasus perceraian. Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan ketahanan ekonomi keluarga, termasuk melalui peningkatan kapasitas dan kemandirian perempuan.
“Sebagian besar perceraian dipicu persoalan ekonomi. Karena itu, perempuan perlu memiliki kemandirian finansial tanpa mengabaikan perannya dalam keluarga,” jelasnya.
Politisi PKB ini. menekankan bahwa upaya pemberdayaan perempuan harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Ia mendorong agar program pelatihan yang digelar Pemerintah Kota Bandung tidak berhenti pada kegiatan formal semata, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan yang konsisten.
“Pelatihan harus diikuti dengan pendampingan. Dengan begitu, perempuan benar-benar bisa mengembangkan kemampuan dan merasakan manfaat nyata,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti potensi ekonomi Kota Bandung yang dinilai belum tergarap optimal. Menurutnya, banyak masyarakat kreatif yang memiliki kemampuan, namun masih terbatas akses dan wadah untuk berkembang.
“Bandung memiliki potensi besar, baik dari sisi pendapatan daerah maupun sumber daya manusia. Banyak individu kreatif, tetapi belum semuanya memiliki ruang untuk berkembang. Padahal, ada visi menghadirkan gerai di setiap kecamatan untuk mendukung ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
Di sisi lain, Indri mengakui masih adanya berbagai persoalan mendasar yang menjadi tantangan kota, seperti banjir, kemacetan, dan pengelolaan sampah yang belum optimal.
“Persoalan banjir, kemacetan, hingga sampah masih menjadi pekerjaan rumah. Jika masalah dasar ini belum terselesaikan, tentu akan berdampak pada upaya penanganan isu lainnya, termasuk pemberdayaan ekonomi,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan dari dalam diri sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup.
Indri mengajak masyarakat, khususnya perempuan, untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sebagai fondasi kehidupan.
“Perubahan dimulai dari diri sendiri. Salah satu kuncinya adalah memperbaiki kualitas ibadah. Ketika itu baik, insyaallah aspek kehidupan lainnya akan ikut membaik,” ujarnya.
Indri menyatakan komitmennya untuk terus memperjuangkan kepentingan perempuan di berbagai sektor, termasuk sosial, ekonomi, dan politik. Ia mendorong perempuan agar berani mengambil peran strategis, termasuk dalam partai politik.
“Perempuan tidak boleh meremehkan diri sendiri. Kita harus hadir dan berperan, termasuk di ranah politik, agar bisa memperjuangkan kepentingan perempuan secara lebih maksimal,” tandasnya.
Ia berharap ke depan semakin banyak kebijakan yang berpihak pada perempuan, sehingga mampu memperkuat ketahanan keluarga dan mengurangi berbagai persoalan sosial di Kota Bandung.















