TERASJABAR.ID – Mual saat hamil dan masuk angin sering sulit dibedakan karena sama-sama menimbulkan rasa tidak nyaman di perut.
Namun, keduanya berasal dari penyebab yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang tidak sama.
Di Indonesia, “masuk angin” merupakan istilah umum untuk menggambarkan kondisi seperti mual, kembung, meriang, atau pegal setelah kehujanan atau terpapar udara dingin.
Sementara itu, mual pada kehamilan terjadi akibat perubahan hormon, terutama hCG dan estrogen, yang membuat sistem pencernaan ibu hamil menjadi lebih sensitif.
- Perbedaan penyebab
Mual pada kehamilan dipicu oleh perubahan hormon tubuh selama awal kehamilan. Sebaliknya, mual akibat masuk angin biasanya berkaitan dengan infeksi ringan, kelelahan, kurang tidur, pola makan tidak teratur, atau penumpukan gas di pencernaan.
- Waktu dan pola muncul
Mual hamil sering terjadi di pagi hari (morning sickness), meski bisa muncul kapan saja dan berlangsung cukup lama, terutama di trimester awal. Sedangkan mual karena masuk angin biasanya hanya berlangsung beberapa hari dan membaik setelah istirahat.
- Gejala yang menyertai
Mual saat hamil umumnya disertai muntah, sensitif terhadap bau, dan penurunan nafsu makan tanpa gejala flu. Sementara itu, masuk angin sering disertai gejala lain seperti demam ringan, batuk, pilek, sakit kepala, dan tubuh terasa pegal.
- Cara penanganan
Mual hamil biasanya diatasi dengan mengatur pola makan, menghindari pemicu mual, dan menjaga asupan cairan. Jika parah, perlu konsultasi medis. Sedangkan masuk angin dapat diatasi dengan istirahat, konsumsi makanan hangat, serta minuman seperti jahe hangat.
- Risiko dan komplikasi
Mual hamil yang berat dapat menyebabkan dehidrasi atau penurunan berat badan signifikan. Sementara itu, masuk angin umumnya tidak berbahaya, kecuali jika disertai infeksi serius atau gejala yang memburuk.
Dengan memahami perbedaannya, penanganan yang tepat dapat dilakukan sehingga kondisi tubuh bisa pulih lebih cepat dan risiko komplikasi dapat dihindari.-***


















