Sementara itu, Sekretaris Ditjen IKMA Yedi Sabaryadi mengungkapkan, berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 3174 Tahun 2024, telah ditetapkan sebanyak 113 IKM OVOP yang terdiri dari sektor makanan dan minuman, kain tenun, batik, anyaman, hingga gerabah.
Provinsi Sumatera Barat sendiri tercatat memiliki 22 IKM OVOP atau menjadi provinsi dengan jumlah IKM OVOP terbanyak kedua setelah DI Yogyakarta.
Yedi menambahkan, program pendampingan tersebut dirancang berbasis kebutuhan pasar ekspor. Oleh karena itu, IKM peserta akan melalui proses kurasi dan pendampingan agar mampu memenuhi standar permintaan pasar global. Sampel produk IKM terpilih juga akan dibawa oleh LPEI untuk dipromosikan kepada calon buyer potensial maupun aggregator internasional.
Pelaku IKM Rendang Riry, Haris Budiman, mengaku Program OVOP memberikan dampak positif terhadap pengembangan usahanya sejak pertama kali mengikuti program tersebut pada 2013. Saat ini, usahanya telah memiliki kapasitas produksi mencapai 200 kilogram per hari dengan dukungan 12 tenaga kerja.
Hal senada disampaikan oleh pemilik IKM Rendang Gadih, Dedy Syandera Putera. Menurutnya, program OVOP telah membantu peningkatan kualitas produk, promosi, pengembangan desain dan kemasan, hingga perluasan jejaring buyer dan mitra usaha. Bahkan, produk Rendang Gadih kini telah menembus pasar ekspor ke Australia, Taiwan, dan Jerman.***
Sumber: Siaran Pers Kemenperin

















