TERASJABAR.ID – Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk memperkuat sistem kesehatan nasional.
Integrasi sistem kesehatan dinilai menjadi kunci utama dalam menghadirkan layanan yang adil bagi 280 juta penduduk Indonesia yang tersebar di lebih dari 7.000 wilayah.
Dalam pertemuan Asia eHealth Information Network (AeHIN) di Jakarta baru-baru ini, Menkes menegaskan bahwa digitalisasi kini menjadi fondasi utama reformasi kesehatan di Indonesia.
Pengalaman menangani pandemi COVID-19 pada 2020–2021 menjadi titik balik bagi Kementerian Kesehatan.
Menkes menilai sistem manual yang terfragmentasi menjadi hambatan besar dalam pelayanan kesehatan. Karena itu, Kemenkes kini memperkuat platform SATUSEHAT sebagai tulang punggung interoperabilitas nasional yang menghubungkan rumah sakit, puskesmas, laboratorium, hingga apotek dalam satu ekosistem kesehatan digital.
“Tanpa digitalisasi, mustahil menghadirkan layanan yang aksesibel, bermutu, dan terjangkau bagi 280 juta rakyat. Kami sedang membangun basis data kependudukan, klinis, hingga genomik untuk mendukung kebijakan berbasis bukti,” tegas Menkes.
Secara teknis, Kemenkes kini mengintegrasikan jutaan Rekam Medis Elektronik (RME) ke dalam government cloud. Tidak hanya berfokus pada data, Kemenkes juga menyiapkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pengambilan keputusan klinis, surveilans penyakit, hingga efisiensi operasional layanan kesehatan.
Menkes menekankan bahwa AI dimanfaatkan untuk memperkuat deteksi dini dan prediksi wabah secara real-time, dengan pengawasan ketat melalui Komite AI Kemenkes yang mengatur aspek etika, hukum, dan keamanan data melalui kerangka ELSI (Ethical, Legal, and Social Implications).
















