TERASJABAR.ID – Banyak orang merasa dirinya sehat karena tidak mengalami keluhan apa pun. Padahal, sejumlah penyakit dan kelainan darah justru kerap berkembang tanpa gejala dan baru terdeteksi setelah menjalani pemeriksaan laboratorium.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung yang juga Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Darah dan Kanker, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.PD., KHOM., MMRS., FINASIM, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan pemeriksaan kesehatan rutin, khususnya pemeriksaan darah, sebagai langkah deteksi dini berbagai penyakit.
Menurut Agung, salah satu kelainan darah yang paling sering ditemukan adalah anemia atau kondisi kadar hemoglobin (Hb) rendah. Namun, pada tahap awal, penderita sering kali tidak menyadari adanya gangguan tersebut.
“Anemia ringan umumnya tidak menimbulkan gejala karena tubuh masih mampu beradaptasi. Keluhan biasanya baru muncul ketika kadar hemoglobin sudah cukup rendah,” ujar Agung , Kamis (11/06/2026).
Agung menjelaskan, gejala yang mulai dirasakan penderita anemia antara lain mudah lelah, lesu, sulit berkonsentrasi, hingga sesak napas. Meski demikian, tidak sedikit kasus anemia yang ditemukan secara tidak sengaja saat seseorang menjalani pemeriksaan kesehatan berkala.
Agung mengatakan, perempuan menjadi kelompok yang cukup rentan mengalami anemia. Selain akibat menstruasi yang dapat menurunkan kadar hemoglobin, faktor asupan gizi yang kurang juga turut berpengaruh terhadap kondisi tersebut.
Menurut Agung, kesehatan darah perlu mendapat perhatian khusus, terutama bagi perempuan yang sedang mempersiapkan pernikahan dan kehamilan. Menurutnya, anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan pada anak, termasuk stunting.
“Kondisi kesehatan darah sebaiknya diketahui sejak sebelum kehamilan agar dapat dilakukan penanganan lebih awal,” katanya.
Agung mengatakan sejumlah penyakit darah yang bersifat genetik atau diturunkan dari orang tua kepada anak, seperti talasemia dan hemofilia.
“Talasemia perlu diwaspadai karena banyak pembawa sifat talasemia yang tidak menunjukkan gejala apa pun. Jika kedua pasangan sama-sama membawa sifat talasemia, anak yang lahir berisiko mengalami talasemia mayor dan membutuhkan transfusi darah seumur hidup,” ujar Agung.
Agung, menyarankan pasangan yang akan menikah melakukan pemeriksaan darah guna mengetahui kemungkinan adanya kelainan darah yang dapat diwariskan kepada keturunannya.
Agung menjelaskan bahwa pemeriksaan darah rutin tidak hanya berguna untuk mendeteksi anemia. Kelainan pada sel darah putih atau leukosit dapat menjadi petunjuk adanya infeksi, penyakit autoimun, hingga kanker darah seperti leukemia.
Sementara gangguan pada trombosit dapat berkaitan dengan demam berdarah, infeksi kronis, maupun gangguan pembekuan darah.
“Terkadang kelainan darah bukan merupakan penyakit utama, tetapi menjadi tanda adanya gangguan lain di dalam tubuh. Karena itu pemeriksaan darah sangat penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini,” jelasnya.
Ia menuturkan, pemeriksaan darah dasar yang meliputi hemoglobin, leukosit, dan trombosit sebenarnya sudah cukup memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan seseorang. Pemeriksaan tersebut juga dapat dilakukan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas.
Bagi masyarakat berusia di bawah 40 tahun yang tidak memiliki keluhan kesehatan, pemeriksaan dapat dilakukan secara berkala setiap beberapa tahun. Namun bagi mereka yang sering mengalami kelelahan, mudah mengantuk, sulit berkonsentrasi, atau mengalami keluhan yang tidak jelas penyebabnya, pemeriksaan kesehatan sebaiknya dilakukan lebih cepat.
Agung berharap masyarakat semakin memahami bahwa tidak adanya gejala bukan berarti tubuh terbebas dari penyakit.
“Jangan menunggu sakit untuk memeriksakan diri. Pemeriksaan kesehatan rutin adalah investasi untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit berkembang menjadi lebih serius,” pungkasnya.(*)

















