TERASJABAR.ID – Forum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kec. Ciawigebang, Kab. Kuningan, dengan tegas menolak kehadiran Panji Gumilang, pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun bersama timnya, di wilayah Ciawigebang.
Pernyataan tegas tersebut dituangkan dalam pernyataan sikap yang dipimpin langsung Ketua MUI Kec. Ciawigebang, K.H. Maksum Abdullah, diikuti 70 tokoh agama dan kyai, saat musyawarah digelar di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Ciawigebang, Jumat (8/5/2026).
Isi dari pernyataan sikap itu, antara lain, menegaskan, penolakan segala aktivitas yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Al-Zaytun, yang dipimpin oleh Panji Gumilang, beserta lembaga-lembaga yang terkait dengan Pesantren Al-Zaytun di wilayah Ciawigebang.
Pembacaan Pernyataan Sikap itu diwarnai yel-yel takbir, “Allaahu Akbar! Takbir! Allaahu Akbar! Takbir! Allaahu Akbar!” yang diikuti peserta forum.
Menurut K.H. Maksum Abdullah, musyawarah dilakukan sebagai bentuk respons atas keresahan para tokoh agama terkait kabar kedatangan Panji Gumilang beserta timnya ke wilayah tersebut.
“Kami khawatir selama ini Al-Zaytun, melakukan kegiatan kontroversi,” ungkap Maksum selepas musyawarah.
Disebutkan, Panji Gumilang kerap datang berulang kali ke kawasan Ciawigebang untuk mencari lahan. Informasi yang diterima MUI, pencarian lahan itu dikaitkan dengan dalih untuk program ketahanan pangan.
“Melihat aktivitas tim Panji Gumilang itu, kami khawatir manakala berkembang seperti yang terjadi di Indramayu, lokasi berdirinya Ponpes Al-Zaytun pokoknya kami tidak ingin mengambil risiko,” ujarnya.
“Hasil kesepakatan seluruh peserta forum kami menolak kehadiran aktivitas Panji Gumilang dalam bentuk apa pun,” tegasnya.
Sementara itu, diperoleh informasi adanya pengumpulan dokumen SPPT dari masyarakat. Jumlahnya cukup pantastis, sekitar 850 SPPT. Mengamati aktivitas ini, muncul kekhawatiran dari tokoh agama, terlebih lahan yang dicari mencapai 100 hingga 250 hektare. Bahkan berpotensi meluas ke sejumlah wilayah perbatasan.*












