Lingkar Pakta Pertahanan Amerika Serikat di Kawasan
Di kawasan Asia Pasifik, Amerika Serikat membangun dan memperkuat jejaring pakta pertahanan dan kerja sama militer dengan sejumlah negara yang secara geografis mengelilingi Indonesia. Singapura menjadi mitra strategis utama AS dalam akses logistik dan pangkalan militer. Filipina memiliki perjanjian pertahanan yang memungkinkan kehadiran pasukan AS di wilayahnya. Thailand sejak lama menjadi sekutu non-NATO Amerika Serikat, sementara Australia merupakan mitra militer paling solid AS di kawasan selatan Indonesia.
Konstelasi ini menempatkan Indonesia secara de facto berada di dalam lingkar pengaruh militer Amerika Serikat, meskipun Indonesia sendiri tidak menjadi bagian dari pakta pertahanan mana pun. Situasi ini menciptakan tekanan struktural: Indonesia harus menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangga yang terikat secara militer dengan AS, sembari mempertahankan kedaulatan dan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.
Dominasi Tiongkok di Utara
Di sisi lain, Tiongkok tampil sebagai kekuatan besar yang secara ekonomi, politik, dan militer semakin dominan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara bagian utara. Pengaruh Tiongkok terlihat melalui ekspansi ekonomi, investasi infrastruktur, serta klaim dan aktivitas maritim yang agresif di kawasan Laut Cina Selatan. Dominasi ini berimplikasi langsung terhadap stabilitas kawasan dan kepentingan Indonesia, terutama di wilayah perbatasan maritim.
Dalam perspektif realisme, Tiongkok dan Amerika Serikat tengah terlibat dalam kontestasi hegemonik, dan Asia Tenggara menjadi arena perebutan pengaruh. Indonesia, dengan wilayah luas dan sumber daya alam besar, tidak mungkin berada di luar pusaran kompetisi ini.
Dilema Strategis Indonesia
Kondisi geopolitik tersebut menempatkan Indonesia dalam dilema strategis. Bergabung dengan salah satu blok kekuatan berisiko mengorbankan kedaulatan dan otonomi politik luar negeri. Namun, bersikap terlalu netral juga berpotensi membuat Indonesia terpinggirkan atau ditekan secara ekonomi dan politik.
Teori hedging strategy dalam hubungan internasional menjelaskan bahwa negara menengah seperti Indonesia cenderung memainkan politik keseimbangan: bekerja sama dengan semua pihak, namun tidak sepenuhnya bergantung pada satu kekuatan. Politik luar negeri Indonesia yang berlandaskan prinsip bebas dan aktif merupakan bentuk adaptasi terhadap realitas dunia yang didominasi oleh negara-negara kuat.
Ancaman Terselubung: Sumber Daya dan Stabilitas Domestik
Sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia tidak hanya menjadi objek persaingan geopolitik, tetapi juga target potensial intervensi ekonomi dan politik. Tekanan dapat muncul dalam bentuk ketergantungan investasi, perang dagang terselubung, hingga upaya mempengaruhi kebijakan domestik melalui instrumen ekonomi dan diplomasi.
Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang berada di posisi strategis namun lemah secara konsolidasi internal kerap menjadi korban konflik proksi (proxy war). Dalam konteks ini, stabilitas politik, kemandirian ekonomi, dan kekuatan pertahanan nasional menjadi faktor kunci agar Indonesia tidak terjebak dalam skenario dominasi negara kuat.
















