Oleh: Dr. H. A. Effendy Choirie, M.Ag., M.H. (Ketua Umum DNIKS, Anggota DPR/MPR RI 1999-2013)
Pengantar
Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah dua organisasi Islam terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Keduanya memiliki sejarah panjang dalam perjuangan keagamaan, pendidikan, sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. Keduanya juga telah melahirkan ribuan ulama, cendekiawan, pemimpin bangsa, pengusaha, birokrat, akademisi, dan aktivis sosial yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan.
Karena itu, ketika muncul judul “NU, Belajarlah kepada Muhammadiyah”, yang dimaksud bukanlah bahwa NU lebih rendah dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah lebih unggul dari NU. Tidak sama sekali. Judul tersebut adalah ajakan untuk melakukan refleksi dan muhasabah organisasi. Organisasi yang besar adalah organisasi yang bersedia belajar dari kelebihan pihak lain tanpa kehilangan jati dirinya.
NU memiliki banyak kelebihan yang mungkin tidak dimiliki Muhammadiyah. Sebaliknya, Muhammadiyah juga memiliki sejumlah keunggulan yang layak menjadi bahan pembelajaran bagi NU. Salah satu yang paling penting adalah kedewasaan dalam mengelola perbedaan dan konflik internal organisasi.
Perbedaan adalah Keniscayaan
Tidak ada organisasi besar yang bebas dari perbedaan pendapat. Bahkan para sahabat Nabi Muhammad SAW pun pernah berbeda pandangan dalam berbagai persoalan. Perbedaan adalah bagian dari dinamika kehidupan.
NU yang memiliki jutaan warga, ribuan pesantren, dan jaringan organisasi yang sangat luas tentu tidak mungkin hanya memiliki satu pandangan dalam setiap persoalan. Perbedaan cara pandang, strategi, pendekatan, bahkan perbedaan kepentingan adalah sesuatu yang wajar.
Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan itu sendiri. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tidak dikelola secara baik sehingga berubah menjadi konflik terbuka yang menguras energi organisasi dan membingungkan warga.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai perbedaan pandangan di lingkungan NU sering kali muncul ke ruang publik melalui media massa, media sosial, kanal YouTube, podcast, [20/6, 10.37] AL GHIFARI: maupun pernyataan-pernyataan terbuka yang saling berbalas. Akibatnya, warga NU di bawah sering kali bertanya-tanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi di organisasi yang mereka cintai?
Padahal, tidak semua persoalan internal harus dikonsumsi publik.
Belajar dari Muhammadiyah
Muhammadiyah tentu bukan organisasi yang steril dari perbedaan. Sebagai organisasi besar yang memiliki jutaan anggota, ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha lainnya, Muhammadiyah juga menghadapi dinamika internal yang tidak ringan.
Namun yang menarik, perbedaan-perbedaan itu relatif jarang menjadi kegaduhan nasional.
Perbedaan pendapat biasanya diselesaikan melalui mekanisme organisasi, musyawarah, rapat, forum pimpinan, atau forum permusyawaratan yang tersedia. Para elite Muhammadiyah umumnya memiliki disiplin organisasi yang kuat untuk tidak membawa setiap persoalan internal ke ruang publik.
Bukan berarti tidak ada konflik. Konflik tetap ada. Perbedaan tetap ada. Tetapi ada budaya organisasi yang mendorong penyelesaian secara internal dan elegan.
Dalam konteks inilah NU dapat belajar dari Muhammadiyah.
Menahan Diri adalah Tanda Kedewasaan
Salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik adalah kemampuan menahan diri.
Dalam kehidupan organisasi, tidak semua hal perlu diumumkan kepada publik. Tidak semua perbedaan harus dipertontonkan. Tidak semua kekecewaan harus disiarkan. Tidak semua perselisihan harus dijadikan konsumsi media sosial.
Sering kali seseorang merasa sedang membela organisasi ketika menyampaikan berbagai persoalan ke publik. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Organisasi menjadi terlihat tidak solid, warga menjadi bingung, dan pihak luar memperoleh ruang untuk memanfaatkan keadaan.
Dalam tradisi pesantren dikenal ajaran menjaga adab, menjaga marwah, dan menjaga kehormatan lembaga. Prinsip-prinsip inilah yang semestinya terus dirawat dalam kehidupan organisasi modern.
Kedewasaan bukan berarti menutupi masalah. Kedewasaan adalah menyelesaikan masalah pada tempatnya dan melalui mekanisme yang benar.
Jangan Mudah Membocorkan Konflik ke Publik
[20/6, 10.38] AL GHIFARI: Salah satu gejala yang sering muncul dalam era digital adalah kecenderungan sebagian pihak menjadikan media sosial sebagai arena pertarungan internal.
Padahal media sosial tidak dirancang untuk menyelesaikan konflik. Media sosial justru sering memperbesar konflik karena setiap pihak merasa perlu memberikan klarifikasi, bantahan, atau pembelaan.
Akibatnya, persoalan yang semula kecil berkembang menjadi besar. Persoalan yang semula dapat diselesaikan dalam forum internal berubah menjadi polemik nasional.
Yang lebih memprihatinkan, warga di tingkat bawah ikut terseret dalam pertentangan yang sebenarnya tidak mereka pahami secara utuh. Mereka terbelah hanya karena mengikuti tokoh atau kelompok tertentu.
Padahal tugas utama organisasi Islam bukanlah mempertontonkan konflik, melainkan membimbing umat, mencerdaskan masyarakat, dan menghadirkan kemaslahatan.
NU Memiliki Modal yang Sangat Besar
NU sesungguhnya memiliki modal sosial yang luar biasa.
NU memiliki jaringan pesantren terbesar di dunia. NU memiliki jutaan jamaah yang tersebar di seluruh Indonesia. NU memiliki ulama yang sangat dihormati masyarakat. NU memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan, mempertahankan NKRI, dan menjaga Pancasila.
Karena itu sangat disayangkan apabila energi besar tersebut justru terkuras oleh konflik internal yang berkepanjangan.
Energi NU seharusnya lebih banyak diarahkan untuk menjawab persoalan-persoalan besar bangsa: kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, korupsi, kerusakan lingkungan, kualitas pendidikan, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan umat.
Di sinilah relevansi gagasan yang pernah saya sampaikan bahwa NU perlu bergerak dari sekadar politik identitas menuju politik kesejahteraan umat.
Belajar Bukan Berarti Menjadi Sama
Belajar kepada Muhammadiyah tidak berarti NU harus berubah menjadi Muhammadiyah.
NU tetap NU dengan kekayaan tradisi pesantrennya, tahlilnya, istighatsahnya, manaqibnya, bahtsul masailnya, dan karakter Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini menjadi identitasnya.
Namun NU dapat belajar tentang tata kelola organisasi, penguatan amal usaha, profesionalisme kelembagaan, disiplin administrasi, dan terutama kedewasaan dalam mengelola perbedaan.
[20/6, 10.38] AL GHIFARI: Sebaliknya, Muhammadiyah juga dapat belajar dari NU tentang kekuatan budaya, kedalaman tradisi keilmuan pesantren, dan kemampuan membangun hubungan yang sangat dekat dengan masyarakat akar rumput.
Karena itu hubungan NU dan Muhammadiyah semestinya bukan hubungan kompetisi yang saling meniadakan, melainkan hubungan fastabiqul khairat-berlomba-lomba dalam kebaikan.
Penutup
Organisasi besar tidak diukur dari seberapa banyak perbedaannya, melainkan dari kemampuannya mengelola perbedaan tersebut secara bijaksana.
NU adalah organisasi besar. Muhammadiyah juga organisasi besar. Keduanya telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi Islam, bangsa, dan negara.
Karena itu, salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik NU dari Muhammadiyah adalah kedewasaan dalam mengelola perbedaan dan konflik internal organisasi. Kemampuan menahan diri, tidak mudah membawa persoalan internal ke ruang publik, tidak gemar mempertontonkan perbedaan melalui media sosial, serta mengedepankan musyawarah dan mekanisme organisasi merupakan sikap yang patut diteladani.
Pada akhirnya, warga NU tidak membutuhkan tontonan konflik. Mereka membutuhkan keteladanan. Mereka membutuhkan persatuan. Mereka membutuhkan kepemimpinan yang arif dan bijaksana.
Perbedaan adalah keniscayaan. Konflik adalah realitas organisasi. Namun kematangan kepemimpinan diukur bukan dari kemampuan menciptakan konflik, melainkan dari kemampuan menyelesaikannya dengan elegan.
Dalam hal inilah NU dapat belajar kepada Muhammadiyah: berbeda tanpa bermusuhan, berdebat tanpa memecah belah, dan menjaga marwah organisasi demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.

















