TERASJABAR.ID – Kelangkaan pupuk akibat perang Iran mulai memicu kekhawatiran besar di sektor pertanian global.
Salah satu perusahaan properti dan agribisnis terbesar di Inggris menyebut dampaknya dapat mendorong lonjakan harga pangan dunia pada tahun depan.
Grosvenor Group mengungkapkan bahwa biaya pupuk bagi petani Inggris melonjak antara 50 hingga 70 persen sejak perang di Timur Tengah pecah pada akhir Februari.
Menurut wali amanat eksekutif perusahaan, Mark Preston, harga pupuk sebenarnya sudah tinggi sebelum konflik terjadi.
Kenaikan tersebut dipicu terganggunya jalur perdagangan di Strait of Hormuz, yang menjadi rute penting distribusi pupuk dunia.
Penutupan jalur laut itu menghambat pengiriman gas alam cair, bahan utama pembuatan pupuk berbasis nitrogen seperti urea.
Preston menjelaskan bahwa dampak terhadap produksi pangan Inggris tahun ini kemungkinan masih terbatas karena sebagian besar pupuk sudah digunakan sebelumnya.
Namun, situasi dapat berubah drastis pada musim tanam berikutnya jika pasokan belum kembali normal.
Ia menilai ancaman terhadap pasokan pangan bahkan lebih serius dibanding gangguan minyak global karena sumber alternatif nitrogen untuk pupuk sangat terbatas.
Banyak petani kini memilih menunda pembelian pupuk sambil berharap harga kembali stabil.
Perusahaan milik keluarga Hugh Grosvenor tersebut mengelola berbagai lahan pertanian dan peternakan besar di Inggris, termasuk produksi susu di Cheshire untuk jaringan supermarket besar.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Yara International, produsen pupuk terbesar dunia, yang memperingatkan potensi krisis pangan dan lonjakan harga di negara-negara rentan, terutama di Afrika.
Di tengah ketidakpastian global, survei terbaru menunjukkan sebagian besar masyarakat Inggris mulai cemas terhadap kenaikan harga bahan makanan akibat meningkatnya biaya produksi pertanian.-***
















