TERASJABAR.ID – Republik Demokratik Kongo (DRC) akhirnya kembali tampil di Piala Dunia setelah penantian selama 52 tahun.
Kedatangan skuad asuhan Sébastien Desabre di Houston, Amerika Serikat, disambut hangat oleh para sukarelawan setempat.
Para pemain tampil mencolok dengan setelan tuksedo dan selempang bermotif macan tutul yang terinspirasi gaya La Sape, budaya fesyen khas Kinshasa yang populer pada era 1970-an.
Perjalanan menuju turnamen ini tidaklah mudah.
Wabah Ebola di negara asal mereka membuat waktu harus menjalani isolasi selama 21 hari di Belgia sebelum memasuki Amerika Serikat.
Selama masa isolasi, mereka hanya sempat memainkan satu laga uji coba melawan Denmark dan terpaksa membatalkan pertandingan melawan Chile.
Meski persiapan terganggu, Desabre menegaskan tim tetap fokus dan profesional.
DRC akan bermarkas di Houston sepanjang turnamen dan memulai perjuangan di Grup K.
Kembalinya DRC ke panggung dunia disambut penuh antusias oleh diaspora Kongo di Houston.
Salah satunya Jonathan, yang telah meninggalkan negaranya 17 tahun lalu.
Ia mengaku selalu memimpikan momen ini dan berharap dapat menyaksikan langsung pertandingan tim kebanggaannya meski harga tiket sangat mahal.
DRC mempunyai peluang bersaing untuk lolos dari fase grup, terutama saat menghadapi Kolombia dan Uzbekistan.
Dengan pemain berpengalaman seperti Axel Tuanzebe, Aaron Wan-Bissaka, Chancel Mbemba, dan Cédric Bakambu, mereka bertekad menghapus kenangan buruk penampilan Zaire di Piala Dunia 1974 serta menunjukkan wajah baru sepak bola Kongo kepada dunia.-***












