Oleh: ReO Fiksiwan
„Jika pada permulaan dan selama perang, dua belas atau lima belas ribu orang Yahudi yang diracun dengan gas beracun, seperti yang terjadi pada ratusan ribu tentara terbaik kita di medan perang, maka pengorbanan jutaan orang tidak akan sia-sia.” — Adolf Hitler(1889-1945), Mein Kampf(1925).
Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, meski beroperasi dalam konteks politik yang berbeda, menunjukkan pola kepemimpinan yang serupa dalam hal retorika keras, polarisasi, dan propaganda yang diarahkan pada satu musuh bersama: Iran.
Trump, sebagaimana digambarkan dalam biografi Jill C. Wheeler, adalah sosok ambisius dan kontroversial yang menjadikan citra sebagai mata uang politik.
Ia tampil sebagai manusia satu dimensi dalam kerangka Herbert Marcuse, radikal di permukaan tetapi sesungguhnya memperkuat struktur kapitalisme dan kekuasaan yang sudah mapan.
Retorika “Make America Great Again” bukan sekadar slogan, melainkan strategi untuk membangun loyalitas massa melalui ilusi perubahan.
Lain lagi, Robert Bellah yang menyoroti paradoks budaya Amerika antara individualisme dan komitmen sosial.
Mengacu konteks ini, Trump menjadi simbol individualisme ekstrem yang menekankan kebebasan pribadi, tetapi sekaligus meretakkan solidaritas sosial.
Ia tampil sebagai figur ironis yang mengobarkan semangat kebebasan, namun kebebasan itu lebih banyak diarahkan pada basis pendukungnya daripada pada komitmen sosial yang lebih luas.
Sementara, Netanyahu, dengan latar belakang akademis dan militernya, membentuk citra sebagai pemimpin keras yang menekankan ancaman eksternal, terutama Iran.
Karir panjangnya sebagai perdana menteri Israel menunjukkan kemampuan bertahan dalam pusaran politik, sekaligus memperlihatkan pola manipulasi sistematis terhadap ketakutan rakyat.
Ia menampilkan diri sebagai penyelamat bangsa, tetapi di balik itu terdapat strategi propaganda yang mengingatkan pada pola otoriter.
Tuduhan korupsi yang membayanginya memperlihatkan paradoks antara citra pemimpin kuat dan realitas politik yang penuh kompromi.
Kebijakan keras terhadap Palestina dan penentangan terhadap program nuklir Iran menjadi bagian dari narasi besar yang menempatkan dirinya sebagai figur tak tergantikan bagi Israel.
Membaca keduanya dalam kerangka kritik terhadap Hitler sebagaimana ditulis Michael Lynch, terlihat pola yang serupa.
Kedua figur populis ini memiliki karisma yang memikat massa, retorika yang menekankan ancaman eksternal, dan kemampuan memanfaatkan krisis untuk memperkuat legitimasi.
Hitler dalam Mein Kampf menampilkan dirinya sebagai figur yang ditakdirkan memimpin bangsa Jerman menuju kebangkitan, dengan visi politik berakar pada supremasi ras dan kehendak untuk berkuasa.
Dengan dipengaruhi filsafat rasialisme dari Nietzsche, ia memanipulasi ketakutan rakyat, menyingkirkan lawan politik, dan membangun sistem totaliter.
Selanjutnya, Trump dan Netanyahu, meski tidak berada dalam konteks yang sama, menunjukkan kecenderungan serupa dalam memanfaatkan ketakutan kolektif dan krisis politik untuk memperkuat legitimasi.
Iran menjadi simbol ancaman yang digunakan untuk membangun solidaritas internal, memperkuat citra kepemimpinan, dan menjustifikasi kebijakan keras.
Refleksi kritis atas fenomena ini menegaskan bahwa demokrasi modern tetap rapuh ketika berhadapan dengan retorika ekstrem.
Lynch menekankan bahwa Hitler bukan sekadar anomali, melainkan produk dari kondisi historis yang memungkinkan seorang demagog menguasai negara.
Dengan perspektif itu, Trump dan Netanyahu dapat dibaca sebagai “Hitler alaf 21” dalam arti simbolis: bukan karena mereka mereplikasi kebijakan genosida, tetapi karena mereka memperlihatkan bagaimana krisis, propaganda, dan ideologi eksklusif dapat melahirkan kepemimpinan yang berbahaya bagi demokrasi.
Sejarah Hitler menjadi peringatan abadi, dan dalam konteks kontemporer, Trump dan Netanyahu adalah cermin dari risiko laten yang selalu mengintai sistem demokrasi modern, terutama ketika perang dan ancaman eksternal dijadikan panggung untuk memperkuat kekuasaan.















