TERASJABAR.ID – Ratusan warga RT 03 RW 07 Kampung Kebon Tengah, Kel. Tuguraja, Kec. Cihideung, Kota Tasikmalaya melakukan audensi ke kelurahan, terkait raibnya daging kurban gegara belum bayar Iuran Penduduk (IP), Selasa (2/6/2026).
Daging kurban tidak dibagikan karena sebagian warga belum melunasi Iuran Penduduk atau IP. Kasus ini langsung meledak menjadi tuntutan pencopotan RT dan RW yang dinilai tidak lagi sah memimpin.
Peristiwa terjadi usai pelaksanaan sholat Idul Adha 1447 Hijriah. Ratusan ekor hewan kurban yang disembelih warga Kampung Kebon Tengah seharusnya dibagikan merata kepada seluruh warga RT 03 RW 07. Namun pembagian batal dilakukan setelah pengurus RT dan RW memutuskan menahan seluruh daging kurban. Alasannya banyak warga belum melunasi Iuran Penduduk.
Keputusan itu sontak memicu gejolak. Warga yang sudah menunggu bagian daging kurban mendadak kecewa. Mereka menilai kurban adalah ibadah sosial yang tidak boleh dikaitkan dengan urusan administrasi iuran. Penahanan daging dianggap sebagai bentuk tekanan dan bentuk kriminalisasi terhadap warga yang sedang kesulitan ekonomi.
Salah seorang warga, Tedi Bebet (54) menyebut tindakan RT dan RW sudah keterlaluan dan melampaui batas kewenangan. Menurut Tedi, masa jabatan RT dan RW setempat sudah habis. Lebih parah lagi, keduanya merupakan pasangan suami istri yang memegang kendali wilayah dalam satu rumah tangga.
“RT dan RW ini sudah habis masa berlakunya. Mereka tidak punya hak lagi mengatur warga. Apalagi keduanya suami istri, ini jelas tidak sehat untuk kepemimpinan di wilayah. Kami minta segera diganti,” tegas Tedi saat ditemui, Selasa (2/6/2026).
Tedi menjelaskan, Iuran Penduduk memang kewajiban warga untuk membiayai kegiatan lingkungan dan operasional RT RW. Namun menurutnya, menghubungkan pelunasan iuran dengan pembagian daging qurban adalah tindakan yang tidak berdasar dan menyakiti rasa keadilan warga.
Kata Tedi, Qurban adalah bentuk berbagi yang tidak boleh dipolitisasi atau dijadikan alat menagih iuran. “Warga yang belum bayar iuran bukan berarti tidak berhak menerima daging qurban. Ini ibadah, bukan transaksi jual beli. Kalau alasannya karena belum lunas IP lalu daging ditahan, itu namanya menyandera hak warga,” ujarnya.
Kemarahan warga semakin memuncak setelah mengetahui daging kurban yang seharusnya dibagikan kini tidak jelas keberadaannya. Sebagian warga menduga daging sudah dipindahkan ke tempat lain tanpa sepengetahuan warga. Kondisi ini memicu desas desus dan tudingan adanya penyelewengan.
Tedi bersama sejumlah warga lain mendesak pemerintah kelurahan dan kecamatan segera turun tangan. Mereka meminta dilakukan audit terhadap daging qurban yang hilang dan evaluasi terhadap kinerja RT dan RW yang dinilai gagal menjaga kepercayaan warga.
“Kami tidak menolak kewajiban bayar iuran. Tapi caranya bukan dengan menahan daging qurban. Itu melukai warga kecil yang menunggu bagian qurban untuk makan. Kalau RT dan RW tidak bisa berlaku adil, lebih baik diganti dengan pengurus baru yang lebih amanah,” kata Tedi.
Sementara itu, Lurah Tuguraja, Kecamatan Cihideung Nofik Taufik saat di temui di kantornya membenarkan tapi kejadian tersebut telah diselesaikan secara baik-baik dan persoalan tersebut sudah diselesaikan dan tidak perlu lagi dibesar besarkan.
Nopik menyebut insiden ini terjadi akibat adanya miskomunikasi antara pengurus dengan warga terkait penggunaan Iuran Penduduk yang mendukung kegiatan sosial kemasyarakatan dan kebijakan lokal. Dana IP digunakan untuk membiayai kegiatan lingkungan, bantuan warga yang membutuhkan, dan operasional kepengurusan di tingkat RT dan RW.
“Mungkin ini terjadi adanya miskomunikasi mengenai penggunaan IP ke masyarakat biar tidak ada silih sangka dari masyarakat. Karena IP itu kesepakatan warga untuk mendukung kegiatan sosial kemasyarakatan dan kebijakan lokal,” tegas Nopik Taufik.
Soal tuntutan pencopotan RT dan RW yang disuarakan warga, Nopik juga memberikan klarifikasi. Ia menyebut masa jabatan RW 07 memang sudah habis. Untuk mengatasi kekosongan, pihaknya sudah menugaskan Karang Taruna sebagai panitia pemilihan RW 07 agar proses berjalan transparan dan melibatkan generasi muda.
Sementara untuk RT, Nopik memastikan pemilihan sudah dilakukan dan hasilnya sudah ada. Pengurus RT yang baru tinggal dilantik untuk segera menjalankan tugas melayani warga.
Nopik berharap warga tidak lagi curiga dan kembali menjaga kekompakan. Ia menegaskan seluruh daging qurban yang sempat ditahan kini sudah dibagikan sesuai haknya. Polemik ini menjadi pelajaran agar komunikasi antara pengurus dan warga diperbaiki ke depan,” tandasnya.*

















