Kendati demikian, dalam telaahan Bapanas terhadap 109 kabupaten/kota dengan kenaikan IPH beras ternyata hanya 52 kabupaten/kota saja yang mengalami kenaikan IPH yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium.
Jumlah 52 kabupaten/kota dengan kenaikan IPH dan melampaui HET itu pun hanya 14,65 persen dari total 355 kabupaten/kota yang dipantau BPS terkait perubahan IPH beras.
Dalam pantauan Bapanas sendiri, rerata harga beras medium per 28 April masih berada dalam rentang HET dan bahkan ada penurunan dibandingkan setahun yang lalu.
Untuk Zona I (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi), harga tercatat di Rp 12.998 per kilogram (kg), sedangkan setahun yang lalu di Rp 13.070 per kg.
Zona II (Sumatera selain Lampung dan Sumsel, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan), rerata harga pada 28 April di Rp 13.618 per kg. Ini juga menurun dibandingkan setahun lalu yang berada di Rp 14.113 per kg.
Sementara Zona III (Maluku, Papua), harga per 28 April berada di level Rp 14.957 per kg. Ini juga turun dibandingkan setahun sebelumnya yang berada di Rp 15.937 per kg.
Dalam mengakselerasi realisasi penyaluran program SPHP beras, tentunya pemerintah punya instrumen yang kuat dengan stok CBP yang sangat kokoh.
Per 28 April, total stok beras yang dikelola Bulog mencapai 5,08 juta ton dengan realisasi pengadaan setara beras produksi dalam negeri di angka 2,4 juta ton.

















