Untuk memperkuat upaya tersebut, Bapanas mengembangkan berbagai program seperti Platform Stop Boros Pangan, penyusunan modul redistribusi pangan, hingga fasilitasi kendaraan penyelamatan pangan.
“Kami mendorong seluruh pihak aktif melaporkan aksi penyelamatan pangan agar data nasional semakin terukur dan terintegrasi,” kata Nita.
Praktik baik sektor perhotelan, retail, industri makanan minuman, dan jasa layanan makanan juga dipaparkan secara detail termasuk mekanisme di lapangan yang melibatkan peran serta bank pangan atau penggiat penyelamatan pangan untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, sehingga memberikan dampak nyata dalam mengurangi sisa pangan sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan,” jelasnya.
Nita turut menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dan civitas akademika dalam mendukung penyelamatan pangan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai dari riset, pengabdian masyarakat, publikasi, hingga integrasi materi penyelamatan pangan dalam pembelajaran.
“Keterlibatan generasi muda penting untuk membangun budaya penyelamatan pangan di Indonesia,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Founder dan Direktur Eksekutif Rumoh Pangan Aceh, Rivan Rinaldi memaparkan program penyelamatan pangan melalui inisiatif Food Rescue, Food Drive serta edukasi dan kampanye.
Program tersebut dilakukan dengan menyelamatkan makanan layak konsumsi yang berpotensi terbuang untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat membutuhkan, sekaligus menghimpun donasi pangan dari berbagai pihak.
Menurut Rivan, upaya penyelamatan pangan tidak hanya membantu mengurangi sisa makanan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Ia menyebut, keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan gerakan tersebut di Aceh.

















