( Negeri yang Sedang Menunggu Kabar Baik)
Oleh: Subchan Daragana
Akademsi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie
Ada minggu-minggu yang berjalan biasa. Ada pula minggu-minggu yang terasa berat bahkan sebelum kita selesai membaca berita pagi. Minggu ini terasa seperti yang kedua. Harga BBM naik. Nilai tukar dolar menyentuh angka yang membuat banyak pelaku usaha menahan napas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang selama ini dipromosikan sebagai simbol harapan, mendadak menjadi sorotan karena kasus dugaan korupsi. Di saat yang hampir bersamaan, publik disuguhi kabar operasi tangkap tangan pejabat negara. Lalu mahasiswa kembali turun ke jalan.
Satu peristiwa mungkin dapat dijelaskan. Dua peristiwa masih bisa dipahami. Namun ketika berbagai peristiwa datang hampir bersamaan, masyarakat mulai bertanya-tanya: sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Pertanyaan itu penting. Bukan karena Indonesia sedang runtuh. Bukan pula karena negara sedang berada di ambang krisis. Tetapi karena dalam kehidupan berbangsa, persepsi sering kali bergerak lebih cepat daripada data. Dan persepsi publik minggu ini tampaknya sedang dipenuhi kegelisahan.
Yang menarik, keresahan masyarakat tidak selalu lahir dari satu masalah besar. Ia sering muncul dari akumulasi berbagai peristiwa kecil yang datang tanpa jeda. Harga kebutuhan naik. Lapangan kerja terasa semakin kompetitif. Berita korupsi kembali muncul. Nilai tukar rupiah melemah. Lalu media sosial memperlihatkan semuanya dalam satu layar yang sama. Akibatnya, publik tidak lagi melihat peristiwa secara terpisah. Mereka melihatnya sebagai satu cerita besar.
Cerita itu bernama ketidakpastian.
Dalam ilmu komunikasi, ada konsep yang dikenal sebagai agenda setting. Masyarakat tidak selalu memikirkan apa yang paling penting, tetapi cenderung memikirkan apa yang paling sering dibicarakan. Ketika linimasa media sosial, grup percakapan keluarga, kanal berita, dan obrolan warung kopi dipenuhi isu ekonomi, korupsi, dan demonstrasi, maka yang terbentuk bukan hanya opini. Yang terbentuk adalah suasana batin kolektif.
Dan suasana batin bangsa tidak pernah bisa diukur hanya dengan statistik.
Di tengah artikel ini, mungkin ada pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah yang sedang turun sebenarnya hanya nilai rupiah?
Sebab jika diperhatikan lebih jauh, yang sedang diuji bukan hanya ekonomi. Yang sedang diuji adalah kepercayaan. Kepercayaan bahwa program pemerintah berjalan sebagaimana mestinya. Kepercayaan bahwa institusi publik masih bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Kepercayaan bahwa keadaan akan menjadi lebih baik dibanding hari ini.
Kepercayaan adalah mata uang yang tidak tercatat dalam laporan keuangan negara. Ia tidak terlihat seperti cadangan devisa. Tidak muncul dalam grafik inflasi. Namun ketika kepercayaan mulai terkikis, dampaknya dapat dirasakan di mana-mana. Orang menunda investasi. Pelaku usaha menahan ekspansi. Anak muda mulai pesimis terhadap masa depan. Dan ruang publik menjadi lebih mudah dipenuhi kemarahan dibanding harapan.
Di sinilah pentingnya membaca fenomena minggu ini dengan kepala dingin. Tidak semua berita buruk berarti negara sedang menuju jurang. Tetapi terlalu banyak berita buruk yang datang bersamaan dapat menciptakan persepsi bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja. Dalam politik dan komunikasi publik, persepsi semacam itu tidak boleh dianggap remeh.
Karena sejarah menunjukkan bahwa demonstrasi mahasiswa sering kali bukan tentang satu isu. Ia adalah bahasa sosial yang muncul ketika banyak kegelisahan bertemu pada waktu yang sama. Kenaikan harga, kasus korupsi, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan akhirnya bertemu dalam satu ruang ekspresi bernama jalanan.
Pemerintah tentu memiliki data. Pemerintah mungkin juga memiliki penjelasan. Namun dalam era digital, data saja tidak cukup. Masyarakat membutuhkan keyakinan bahwa negara memahami apa yang mereka rasakan. Sebab pada akhirnya, publik tidak hanya menilai apa yang dilakukan pemerintah. Mereka juga menilai apakah pemerintah mendengar kegelisahan mereka.
Dan mungkin di sinilah pelajaran terbesar dari minggu yang gaduh ini.
Yang sedang dicari masyarakat bukan sekadar penjelasan. Yang sedang dicari adalah harapan!
Harga BBM bisa naik. Nilai tukar rupiah bisa berfluktuasi. Kasus korupsi bisa diusut. Demonstrasi bisa berakhir. Namun jika harapan dan kepercayaan publik ikut hilang, biaya untuk membangunnya kembali akan jauh lebih mahal daripada angka apa pun yang tercatat dalam APBN.
Karena yang menjaga sebuah bangsa bukan hanya pertumbuhan ekonomi, bukan hanya program pemerintah, dan bukan hanya stabilitas politik.
Melainkan keyakinan warganya bahwa esok masih layak diperjuangkan.


















