TERASJABAR.ID – Banjir yang kembali merendam kawasan Rancabolang, Kota Bandung, menuai sorotan serius dari pimpinan DPRD Kota Bandung.
Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, Dr. H Edwin Senjaya S.E., M.M, menilai persoalan banjir di wilayah tersebut tidak bisa lagi ditangani secara parsial, melainkan harus diselesaikan secara komprehensif dari hulu hingga hilir.
Sorotan itu menguat setelah adanya keluhan langsung dari warga di RW 03 RT 01 hingga RT 05 Rancabolang menyampaikan keresahan terhadap banjir yang terus berulang dan tak kunjung tertangani secara tuntas.
Warga mempertanyakan keseriusan penanganan dari pemerintah kota. Pasalnya, persoalan banjir tersebut bukan terjadi dalam hitungan satu atau dua tahun, melainkan sudah berlangsung cukup lama tanpa solusi konkret yang dirasakan di lapangan.
“Mereka mengeluh dan mempertanyakan, apakah ini memang tidak bisa diselesaikan oleh Pemkot. Karena ini bukan persoalan baru, sudah bertahun-tahun terjadi. Harapannya tentu ada solusi konkret,” ujar Edwin menirukan aspirasi warga.
Menurut Edwin, salah satu persoalan utama yang ditemukan di lapangan adalah terganggunya sistem drainase sejak adanya pembangunan proyek kereta api cepat oleh KCIC. Ia menyebut, terdapat saluran air yang sebelumnya berfungsi dengan baik, namun kini tertutup sehingga menghambat aliran air saat hujan deras.
“Di sana ada saluran drainase yang sejak ada pembangunan kereta api cepat jadi tertutup. Dulu di Rancabolang tidak seperti ini. Warga juga mengusulkan agar saluran tersebut bisa segera dibenahi,” ujarnya.
Selain itu, kondisi infrastruktur pengendali banjir yang belum tuntas turut memperparah situasi.
Edwin mengungkapkan, terdapat tanggul di wilayah tersebut yang hingga kini belum selesai dibangun. Akibatnya, ketika curah hujan tinggi, air dengan cepat meluap dan menggenangi permukiman warga.
Ia juga menyoroti kondisi geografis kawasan Rancabolang yang berada di dataran lebih rendah dibandingkan wilayah sekitarnya. Ditambah lagi, kawasan tersebut berdekatan dengan kompleks perumahan, sehingga limpasan air dari area yang lebih tinggi semakin memperbesar potensi genangan.
“Posisi mereka memang lebih rendah karena dekat dengan perumahan. Jadi ketika hujan deras, air langsung mengalir ke sana dan sulit surut,” jelasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Edwin menyebut warga membutuhkan sejumlah infrastruktur pendukung seperti sumur resapan, kolam retensi, hingga pompa air. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut sangat penting untuk mengurangi beban air yang masuk ke kawasan permukiman saat hujan deras.
“Minimal harus ada pompa air dan penyelesaian tanggul, karena biayanya relatif tidak terlalu besar dan masih bisa dijangkau segera. Untuk kolam retensi mungkin membutuhkan waktu lebih lama karena harus melalui proses penganggaran,” katanya.
Lebih lanjut, Edwin juga menyoroti adanya aliran air dari kawasan jalan tol yang diduga turut memperparah genangan. Ia menyebut, saat hujan deras, air dari sistem drainase jalan tol yang dikelola Jasa Marga dialirkan ke wilayah Rancabolang dan sekitarnya, termasuk Rancanumpang.
“Kami menemukan dari laporan warga ketika hujan, ada aliran dari pihak jalan tol yang dibuang ke sana. Ini tidak hanya berdampak ke Rancabolang, tapi juga ke Rancanumpang,” ungkapnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi, termasuk dengan pihak terkait seperti pengelola jalan tol dan instansi teknis lainnya, untuk mencari solusi bersama. Salah satu langkah awal yang dinilai mendesak adalah membuka kembali saluran drainase yang tertutup agar aliran air kembali normal.
“Harus diselesaikan secara komprehensif agar tidak berlarut-larut. Drainase yang tertutup harus dibongkar terlebih dahulu, lalu dilakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait,” tegasnya.
Di sisi lain, Edwin juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Ia menilai perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi drainase dan memicu banjir.
“Kita juga harus introspeksi. Kesadaran masyarakat masih kurang, masih ada yang membuang sampah sembarangan termasuk ke sungai-sungai tanpa peduli dampaknya terhadap lingkungan,” ujar Edwin.
Dengan berbagai persoalan yang ada serta keluhan warga yang kian menguat, DPRD Kota Bandung mendorong Pemerintah Kota Bandung untuk segera menghadirkan langkah konkret dan terukur agar banjir di kawasan Rancabolang tidak terus berulang setiap musim hujan.













