TERASJABAR.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut kondisi gencatan senjata dengan Iran berada di titik paling rapuh sejak diberlakukan pada 7 April lalu.
Trump menilai proposal perdamaian terbaru dari Teheran tidak layak diterima dan menyebut dokumen tersebut sebagai usulan yang buruk.
Ia juga mempertimbangkan kembali pengerahan pengawalan militer Angkatan Laut AS untuk kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz guna mengakhiri blokade Iran di jalur strategis tersebut.
Pemerintah AS sebelumnya telah mengirim sejumlah persyaratan kepada Iran, terutama terkait pembatasan program nuklir Teheran.
Namun, proposal balasan dari Iran langsung ditolak oleh Trump.
Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan melanjutkan pembicaraan sebelum tuntutan mereka dipenuhi, termasuk pencabutan sanksi, pelepasan dana yang dibekukan, pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, dan kompensasi kerugian perang.
Mantan komandan Garda Revolusi Iran, Mohammad Ali Jafari, menegaskan bahwa negosiasi tidak akan dilanjutkan selama konflik belum benar-benar berakhir.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyebut usulan negaranya masuk akal dan masih membuka peluang tercapainya kesepakatan.
Kebuntuan tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia hingga melampaui 105 dolar AS per barel.
Situasi ini juga membayangi agenda pertemuan Trump dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Beijing.
Tiongkok diperkirakan enggan memenuhi permintaan AS untuk membatasi hubungan ekonomi dan energi dengan Iran.
Di tengah ketegangan, sekitar 1.500 kapal tanker dan 20.000 pelaut masih tertahan di kawasan Teluk menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Kondisi ekonomi Iran juga semakin tertekan akibat krisis berkepanjangan, mulai dari pengurangan pasokan listrik, menipisnya stok obat-obatan, hingga kerugian ekonomi besar akibat pembatasan internet dan tingginya inflasi.-***
















