Perluasan akses juga terus diakselerasi melalui skema Sekolah Satu Atap, Sekolah Terbuka, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), penguatan komunitas belajar, serta layanan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus guna memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal dalam sistem pendidikan nasional.
Penguatan peran guru, dosen, dan tenaga kependidikan terus dilakukan melalui berbagai program peningkatan kompetensi, termasuk penguasaan teknologi seperti coding, kecerdasan artifisial (AI), dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang turut didukung peningkatan kesejahteraan melalui sertifikasi dan insentif.
Pada jenjang pendidikan tinggi, peran dosen dan peneliti diarahkan untuk membangun ekosistem akademik yang responsif terhadap kebutuhan masa depan.
Kolaborasi multipihak melalui pendekatan pentahelix, program Magang Berdampak, Katalisator Kemitraan Berdikari, serta pengembangan kawasan sains dan teknologi (Science Techno Park) menjadi instrumen strategis untuk memastikan bahwa hasil pembelajaran bertransformasi menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Konsorsium perguruan tinggi juga disorot telah berkontribusi dalam menangani tantangan seperti stunting dan kemiskinan.
“Pada akhirnya, semua itu bermuara pada riset yang berdampak nyata. Riset tidak boleh berhenti pada publikasi, tetapi harus melahirkan inovasi dan solusi. Fokus riset nasional diarahkan pada program prioritas dan strategis di bidang-bidang kunci masa depan, seperti energi, pangan, kesehatan, lingkungan, dan teknologi,” jelas Menteri Brian.
Selain peningkatan mutu, perluasan akses pendidikan tetap menjadi prioritas melalui berbagai skema afirmasi dan inklusi, termasuk Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi), serta beasiswa pradoktoral dan doktoral.
Langkah ini memastikan bahwa setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang setara untuk mengakses pendidikan hingga jenjang tertinggi.
















