TERASJABAR.ID – Iran dilaporkan mengusulkan skema baru yang memungkinkan kapal komersial melintas dengan aman di sisi Oman di Selat Hormuz, dengan syarat negosiasi dengan Amerika Serikat menghasilkan kesepakatan yang mencegah konflik militer lanjutan.
Usulan ini muncul di tengah tekanan besar yang masih dirasakan sektor pelayaran dan energi global setelah perang beberapa pekan serta blokade AS terhadap perdagangan maritim Iran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia.
Badan Informasi Energi AS memperkirakan sekitar 20 persen konsumsi cairan minyak global melewati jalur ini, termasuk aliran minyak mentah dan gas alam cair.
Namun sejak konflik pecah pada akhir Februari, lalu lintas kapal menurun drastis.
Jika sebelumnya lebih dari 130 kapal melintas setiap hari, kini jumlahnya merosot tajam, mengganggu distribusi hingga ratusan juta barel minyak dari Timur Tengah.
Dampak konflik juga dirasakan para pelaut dan armada kapal.
Sekitar 20.000 pelaut dan 1.600 kapal dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia, sementara ratusan kapal tanker lainnya masih terjebak sejak permusuhan dimulai.
Rencana Iran disebut akan menghidupkan kembali jalur pelayaran dua arah, dengan rute aman di sisi Oman.
Pendekatan ini dinilai lebih moderat dibanding opsi sebelumnya seperti penerapan biaya tol atau kontrol ketat atas lalu lintas, yang menuai kritik internasional.
Meski begitu, ketidakpastian masih besar. Belum jelas apakah Iran akan membersihkan ranjau atau mengizinkan kapal terkait Israel melintas.
Proposal ini masih sebatas sinyal negosiasi, namun berpotensi meredakan gangguan pasokan energi global jika terealisasi.-***














