TERASJABAR.ID – Donald Trump kembali mengklaim bahwa Amerika Serikat memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz.
Namun, pernyataan tersebut dipertanyakan, mengingat Iran baru saja menyita dua kapal kontainer dan laporan AS menyebut pembersihan ranjau di selat itu bisa memakan waktu hingga enam bulan.
Pernyataan Trump muncul setelah pasukan khusus AS menaiki kapal tanker tanpa kewarganegaraan di Samudra Hindia yang diduga membawa minyak Iran.
Operasi itu terjadi hanya beberapa jam setelah Iran menahan dua kapal, menandai meningkatnya ketegangan dengan blokade timbal balik yang menjaga harga minyak global di kisaran 100 dolar per barel.
Meski AS mampu menghentikan kapal yang keluar dari pelabuhan Iran, mereka belum sepenuhnya membuka jalur bagi kapal dari negara sekutu Teluk.
Situasi semakin rumit dengan keberadaan ranjau laut yang diperkirakan berjumlah sekitar 20 unit, sebagian ditempatkan secara manual dan sebagian lagi dikendalikan jarak jauh.
Pentagon mengakui laporan tersebut, meski menyebutnya tidak sepenuhnya akurat.
Trump sendiri menegaskan armada penyapu ranjau bekerja maksimal dan bahkan memerintahkan tindakan tegas terhadap pihak yang memasang ranjau.
Menurut Fatih Birol dari International Energy Agency, situasi ini menjadi ancaman terbesar bagi keamanan energi global.
Ketegangan juga meningkat setelah Iran menolak perundingan damai, menuduh AS melanggar gencatan senjata yang sebelumnya diperpanjang tanpa batas waktu.-***















