TERASJABAR.ID – Kementerian Kesejahteraan Sosial Iran mengumumkan rencana pemberian subsidi kepada sekitar 87 juta warga untuk berbelanja di toko-toko yang telah ditunjuk pemerintah.
Program ini diluncurkan sehari setelah pejabat mengakui lonjakan inflasi yang signifikan, sebagaimana dilaporkan kantor berita negara IRNA.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menyebut harga sejumlah komoditas melonjak lebih dari 100 persen hanya dalam waktu kurang dari sepekan.
Ia juga menyerukan tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan situasi ekonomi untuk keuntungan pribadi.
Pemerintah Iran memperingatkan bahwa pelaku penimbunan dan manipulasi harga bahan pokok dapat dijatuhi hukuman hingga 20 tahun penjara serta hukuman cambuk.
Kepala Kehakiman Iran, Gholam Hossein Mohseni-Ejei, menegaskan bahwa tekanan ekonomi yang terjadi merupakan bagian dari upaya musuh untuk melemahkan rakyat Iran.
Ia juga meminta pelaku usaha menekan margin keuntungan meski biaya produksi meningkat sebagai bentuk nasionalisme.
Di sisi lain, konflik dan blokade yang melibatkan Amerika Serikat disebut telah memberikan dampak besar terhadap ekonomi Iran.
Produksi dan ekspor minyak mengalami penurunan, sementara kapasitas penyimpanan di darat maupun laut hampir penuh akibat terhambatnya distribusi melalui Selat Hormuz.
Pemerintah Iran bahkan mulai memangkas produksi minyak secara terencana untuk menghindari kelebihan kapasitas, sembari memanfaatkan metode teknis agar sumur dapat kembali beroperasi dengan cepat.
Meski menghadapi tekanan berat, sejumlah pejabat menegaskan Iran telah beradaptasi dengan sanksi jangka panjang, termasuk sebelumnya yang memicu penurunan ekspor ke China melalui jalur tidak resmi.
Situasi terkini dinilai lebih sulit karena blokade fisik mempersempit ruang manuver ekonomi negara tersebut.-***















