TERASJABAR.ID – Ikatan Keluarga Minang (IKM) Tasikmalaya menginisiasi sebuah gagasan besar yang melampaui pembangunan rumah ibadah pada umumnya. Melalui momentum silaturahmi dan halal bihalal yang digelar di kawasan Tanah Minang, Kel. Setiamulya, Kec. Tamansari, Kota Tasikmakaya, Minggu (19/4/2026), IKM secara resmi memaparkan rencana pembangunan Kawasan Terpadu Religi dan Budaya yang diproyeksikan menjadi landmark baru Kota Tasikmalaya.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, melainkan juga titik awal konsolidasi besar untuk mewujudkan sebuah kawasan yang mengintegrasikan nilai religi, budaya, sosial, dan ekonomi dalam satu kesatuan yang utuh.
Ketua IKM Tasikmalaya, Syahrial Koto, menegaskan, pembangunan ini bukan sekadar menghadirkan masjid, melainkan sebuah simbol pembauran dan persatuan. “Ini bukan hanya membangun masjid, tetapi menghadirkan simbol kebersamaan. Perpaduan Minang dan Sunda kita wujudkan dalam satu bangunan, agar menjadi pesan kuat bahwa keberagaman bisa menyatu dan saling menguatkan,” ujarnya.
Momentum halal bihalal dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi, mengingat selama ini komunikasi antaranggota lebih banyak dilakukan secara virtual. Pertemuan ini menjadi langkah nyata untuk menyatukan visi dalam membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar kegiatan organisasi.
Dari sinilah lahir komitmen bersama untuk menghadirkan sebuah kawasan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga menjadi pusat peradaban dan kebanggaan bersama masyarakat Tasikmalaya.
Salah satu kekuatan utama dari proyek ini terletak pada konsep arsitekturnya. Masjid dirancang dengan pendekatan neo-vernacular modern, yang memadukan dua identitas budaya besar yakni Minangkabau melalui gonjong, ukiran songket, dan ornamen marawa, dengan Sunda/Tasikmalaya melalui payung geulis dan elemen tusuk sate.
Perpaduan ini tidak hanya bersifat estetika, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang persatuan dalam keberagaman, keteguhan, dan arah tujuan yang jelas.
IKM Tasikmalaya menegaskan, desain masjid telah melalui proses pengkajian yang komprehensif, mencakup aspek budaya, filosofi, hingga teknis arsitektur. Perancangan dilakukan oleh arsitek profesional sesuai dengan fungsi bangunan sebagai tempat ibadah yang sakral, nyaman, dan khusyu.
Melalui pendekatan desain yang ikonik, masjid ini juga diharapkan menjadi daya tarik wisata religi tanpa menghilangkan esensi utama sebagai tempat ibadah. Pembangunan ini dikembangkan sebagai kawasan terpadu yang mencakup mesjid utama berkapasitas 800–1000 jamaah, area basement untuk parkir dan utilitas, gedung perkantoran dan sekretariat, fasilitas pendidikan (madrasah), gedung budaya Minangkabau, Aaea UMKM dan fasilitas sosial seperti rumah singgah dan dapur umum.
Ia menambahkan, total estimasi anggaran pembangunan mencapai sekitar Rp17,55 miliar. Ketua Panitia Pembangunan, Yelviendra, menyampaikan, pembangunan ini akan dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan semangat kebersamaan.
“Ini adalah pembangunan rumah Allah. Jangan takut dengan angka. Dengan kebersamaan, insya Allah bisa kita wujudkan,” ujarnya, seraya menambahkan, pembangunan ini terbuka untuk semua kalangan masyarakat.
Target 2026 dan Daya Tarik Pemerintah
Saat ini, IKM tengah menyusun naskah akademik, kajian teknis, serta pengurusan perizinan. Targetnya, peletakan batu pertama dapat dilakukan pada tahun ini juga, setelah seluruh persyaratan terpenuhi.
Dengan konsep yang kuat dan nilai strategis yang diusung, pembangunan ini diproyeksikan menjadi landmark religi dan budaya Kota Tasikmalaya, simbol pembauran masyarakat, sekaligus destinasi wisata religi unggulan Jawa Barat
Pembangunan ini membawa pesan bahwa pembauran dapat dimulai dari karya nyata. Melalui bangunan yang memadukan budaya Minang dan Sunda, IKM Tasikmalaya ingin menghadirkan harmoni dalam bentuk yang konkret.
Dengan semangat “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung,” kawasan ini diharapkan menjadi ikon baru Tasikmalaya. Masjid yang tidak hanya menjadi tempat sujud, melainkan juga simbol persatuan dan peradaban.*
















